Di setiap sepertiga malam terakhir semua santri Pesantren Pesantren Life Skill Daarun Najaah berbondong-bondong untuk menuju Mushollatorium At-Taqiy.

Mereka harus melawan dinginnya malam dan rasa kantuk untuk melaksanakan dzikir dan qiyamullail. Di saat kebanyakan manusia masih terlelap oleh keheningan malam, para santri diajak untuk bermunajad kepada Allah SWT. dengan membaca ratibul haddad dan tahajud kemudian dilanjutkan shalat subuh berjamaah.

Kegiatan tersebut menjadi rutinitas para santri di pesantren ini. Di samping membaca ratibul haddad sebelum tahajud para santri juga membaca wirdul lathif seusai menunaikan salat isya’ berjamaah.

Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh santri yang berasal dari berbagai penjuru Nusantara. Dan yang bertugas sebagai imam shalat dan pembacaan wirid ditunjuk secara bergantian sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh pesantren.

Dr. KH. Ahmad Izzuddin, M. Ag sebagai pengasuh pesantren sering mendorong kepada santri-santrinya untuk istiqomah melaksanakan dzikir dan qiyamullail. Itu semua sebagai usaha secara bathiniyah untuk menjadi santri yang sukses-sholeh-selamat sesuai dengan jargon pesanten.

“Marilah kita semua istiqomah membaca wirid ini, karena sukses usaha lahir bathin. Kita sudah berusaha secara lahiriyah dan inilah bentuk usaha bathiniyah kita kepada Allah SWT. Jika Allah sudah berkehendak, terlalu sederhana bagi Allah kalau hanya menjadikan kita sukses di dunia dan akhirat”. Itulah beberapa kalimat yang sering beliau ucapkan untuk memotivasi santri-santrinya.

Beliau juga sering berpesan kepada santri-santrinya agar memiliki amalan wirid yang sanadnya muttasil sebagai upaya untuk membentengi diri dalam menghadapi zaman yang serba modern ini. Para santri di sini memang dididik untuk tidak menutup mata dalam mengikuti perkembangan zaman, namun di sisi lain juga menjaga amalan-amalan dan tradisi para salafus shalihin.

“Zaman sekarang sudah sedemikian rupa, kalian harus memiliki amalan wirid sebagai upaya untuk membentengi diri, usahakan wirid yang dibaca sanadnya harus muttasil. Kalau boleh saya katakan, saya memiliki sanad sampai dengan baginda Rasulullah SAW. mengenai wirid ini”, pesan beliau di suatu kesempatan saat memberikan pengarahan kepada santri-santrinya. (SR)